Ruqyah Syar’iyyah: Pengobatan dengan Al-Qur’an dan Doa yang Sesuai Sunnah

Ruqyah merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam Islam untuk memohon kesembuhan kepada Allah Ta’ala melalui bacaan Al-Qur’an, doa-doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ, dan dzikir yang sesuai dengan syariat.

Di tengah masyarakat, istilah ruqyah sering dikaitkan dengan gangguan jin, sihir, atau kesurupan. Padahal, ruqyah dalam Islam memiliki cakupan yang lebih luas. Ruqyah dapat dilakukan untuk memohon perlindungan dan kesembuhan dari berbagai penyakit, baik penyakit yang berkaitan dengan fisik maupun gangguan yang bersifat nonfisik.

Yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa yang menyembuhkan bukanlah peruqyah, bukan bacaan itu sendiri, dan bukan benda tertentu. Yang memberikan kesembuhan hanyalah Allah Ta’ala.

Allah berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu’ara: 80)

Ayat ini mengajarkan kepada seorang Muslim bahwa segala bentuk pengobatan hanyalah sebab. Adapun kesembuhan hakikatnya berada di tangan Allah Ta’ala.


Apa Itu Ruqyah?

Secara sederhana, ruqyah adalah bacaan berupa ayat Al-Qur’an, doa, dan dzikir yang dibaca untuk memohon perlindungan serta kesembuhan kepada Allah Ta’ala.

Ruqyah yang sesuai dengan syariat disebut ruqyah syar’iyyah.

Ruqyah bukanlah praktik perdukunan, bukan pula ritual mistis. Ruqyah syar’iyyah justru merupakan bagian dari ikhtiar yang dibenarkan dalam Islam selama dilakukan sesuai tuntunan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama di dalamnya tidak terdapat kesyirikan.”

(HR. Muslim, no. 2200)

Hadis ini menjadi salah satu dasar bahwa ruqyah diperbolehkan selama tidak mengandung unsur syirik.


Ruqyah Bukan Hanya untuk Gangguan Jin

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap ruqyah hanya dilakukan ketika seseorang mengalami gangguan jin.

Padahal, Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan ruqyah untuk berbagai kondisi.

Di antaranya adalah ketika seseorang mengalami sakit.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Nabi ﷺ apabila ada salah seorang dari keluarganya yang sakit, beliau meniupkan kepadanya dengan membaca Al-Mu’awwidzat.

(HR. Muslim)

Al-Mu’awwidzat yang dimaksud adalah surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Ini menunjukkan bahwa ruqyah dapat menjadi bagian dari ikhtiar seorang Muslim ketika menghadapi sakit.

Namun, ruqyah tidak berarti seseorang meninggalkan pengobatan medis.

Islam mengajarkan untuk mengambil sebab. Rasulullah ﷺ bersabda:

تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah.”

(HR. Abu Dawud, no. 3855; Tirmidzi, no. 2038)

Karena itu, ruqyah dan pengobatan medis tidak harus dipertentangkan. Seorang Muslim dapat melakukan ruqyah sambil tetap mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan dari tenaga kesehatan.


Apa Saja Bacaan dalam Ruqyah Syar’iyyah?

Tidak ada satu bacaan khusus yang harus digunakan dalam setiap kondisi. Di antara bacaan yang umum digunakan dalam ruqyah syar’iyyah adalah:

1. Surat Al-Fatihah

Al-Fatihah merupakan surat yang agung dan memiliki kedudukan istimewa.

Dalam sebuah hadis, para sahabat pernah meruqyah seseorang yang terkena sengatan dengan membaca Al-Fatihah. Setelah itu orang tersebut sembuh.

Rasulullah ﷺ kemudian membenarkan perbuatan tersebut.

(HR. Bukhari, no. 2276; Muslim, no. 2201)


2. Ayat Kursi

Ayat Kursi terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 255.

Ayat ini berisi penjelasan tentang keagungan Allah, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan penjagaan-Nya terhadap seluruh makhluk.

Membaca Ayat Kursi termasuk amalan yang sangat dianjurkan, khususnya sebagai dzikir perlindungan.


3. Surat Al-Ikhlas

Surat Al-Ikhlas menegaskan tauhid dan keesaan Allah Ta’ala.

4. Surat Al-Falaq

Surat Al-Falaq berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari berbagai bentuk kejahatan.

5. Surat An-Nas

Surat An-Nas berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari bisikan dan godaan setan.

Ketiga surat tersebut dikenal sebagai Al-Mu’awwidzat dan termasuk bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ untuk perlindungan.


Doa Nabi ﷺ untuk Orang yang Sakit

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:

أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Hilangkanlah penyakit, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

(HR. Bukhari, no. 5675; Muslim, no. 2191)

Doa ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting: meminta kesembuhan kepada Allah.


Bagaimana Cara Melakukan Ruqyah Syar’iyyah?

Ruqyah dapat dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri.

Bahkan, seseorang tidak harus selalu menunggu diruqyah oleh orang lain.

Secara sederhana, seseorang dapat:

  1. Berwudhu jika memungkinkan.
  2. Menghadirkan keyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan kesembuhan.
  3. Membaca Al-Fatihah.
  4. Membaca Ayat Kursi.
  5. Membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
  6. Membaca doa-doa yang shahih dari Rasulullah ﷺ.
  7. Meniupkan dengan lembut pada kedua telapak tangan lalu mengusapkannya ke tubuh, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.
  8. Berdoa kepada Allah dengan penuh tawakal.

Tidak harus dengan suara keras, gerakan tertentu, atau ritual khusus.

Yang terpenting adalah tauhid, doa, keyakinan kepada Allah, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.


Tiga Syarat Ruqyah yang Diperbolehkan

Para ulama menjelaskan bahwa ruqyah yang diperbolehkan harus memenuhi beberapa prinsip.

Pertama: Menggunakan Kalamullah, nama dan sifat Allah, atau doa yang dibenarkan

Ruqyah tidak boleh menggunakan mantra yang tidak diketahui maknanya atau bacaan yang mengandung kesyirikan.

Kedua: Tidak mengandung kesyirikan

Tidak boleh meminta pertolongan kepada jin, arwah, kuburan, benda keramat, atau makhluk lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di samping Allah.”

(QS. Al-Jinn: 18)

Ketiga: Meyakini bahwa ruqyah hanyalah sebab

Bacaan ruqyah bukanlah sesuatu yang bekerja secara mandiri.

Kesembuhan tetap berada di tangan Allah Ta’ala.


Waspadai Ruqyah yang Tidak Sesuai Syariat

Di tengah masyarakat, terkadang terdapat praktik yang mengatasnamakan ruqyah tetapi justru mengandung unsur yang bertentangan dengan tauhid.

Misalnya:

  • meminta bantuan jin;
  • menggunakan mantra yang tidak diketahui maknanya;
  • meminta pasien menyediakan benda tertentu untuk ritual;
  • menggunakan jimat atau benda keramat;
  • memberikan rajah atau tulisan yang tidak jelas;
  • meminta sesajen;
  • melakukan ritual di tempat tertentu dengan keyakinan khusus;
  • mengaku mengetahui perkara gaib;
  • memastikan seseorang terkena sihir atau gangguan jin tanpa dasar yang jelas;
  • memberikan tarif yang tidak wajar dan mengeksploitasi ketakutan pasien.

Seorang Muslim harus berhati-hati.

Tidak semua orang yang mengaku sebagai “peruqyah” berarti praktiknya sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.


Jangan Mudah Menuduh Seseorang Terkena Jin atau Sihir

Ini juga merupakan perkara yang sangat penting.

Ketika seseorang mengalami sakit kepala, kecemasan, sulit tidur, perubahan perilaku, atau masalah kesehatan lainnya, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia terkena jin, sihir, atau gangguan ghaib.

Sebab, berbagai kondisi tersebut juga dapat memiliki penyebab medis, psikologis, sosial, atau lainnya.

Karena itu, sikap yang bijak adalah mengambil sebab secara menyeluruh.

Jika seseorang mengalami keluhan kesehatan, lakukan pemeriksaan kepada tenaga kesehatan yang kompeten. Pada saat yang sama, ia dapat memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan melakukan ruqyah syar’iyyah.


Ruqyah Dimulai dari Diri Sendiri

Seorang Muslim tidak harus bergantung kepada seorang peruqyah.

Allah Ta’ala telah memberikan kepada kita Al-Qur’an, doa, dan dzikir yang dapat diamalkan setiap hari.

Daripada hanya mencari seseorang ketika mengalami masalah, lebih baik membangun benteng keimanan dan dzikir dalam kehidupan sehari-hari.

Mulailah dengan:

  • menjaga shalat lima waktu;
  • membaca Al-Qur’an;
  • memperbanyak dzikir;
  • membaca dzikir pagi dan petang;
  • membaca Al-Mu’awwidzat;
  • membaca Ayat Kursi;
  • memperbanyak istighfar;
  • memperbanyak shalawat;
  • menjaga rumah dari berbagai kemaksiatan;
  • memperkuat tawakal kepada Allah.

Ruqyah bukan sekadar “terapi ketika ada gangguan”, tetapi bagian dari kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya.


Jangan Sampai Ruqyah Menggeser Tauhid

Tujuan terbesar dari ruqyah sebenarnya bukan hanya mendapatkan kesembuhan.

Lebih jauh daripada itu, ruqyah seharusnya menguatkan tauhid.

Ketika sakit, kita belajar bahwa kita lemah.

Ketika takut, kita belajar bahwa hanya Allah tempat berlindung.

Ketika menghadapi sesuatu yang tidak mampu kita kendalikan, kita belajar untuk bertawakal.

Dan ketika sembuh, kita belajar untuk bersyukur.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

(QS. At-Talaq: 3)


Penutup

Ruqyah syar’iyyah adalah salah satu bentuk ikhtiar yang dibenarkan dalam Islam. Ia dilakukan dengan membaca Al-Qur’an, doa, dan dzikir yang sesuai syariat, tanpa unsur kesyirikan dan tanpa praktik-praktik mistis.

Namun, seorang Muslim harus selalu mengingat bahwa ruqyah hanyalah sebab. Allah-lah Asy-Syafi, Dzat Yang Maha Menyembuhkan.

Maka jangan menggantungkan hati kepada peruqyah.

Jangan menggantungkan hati kepada bacaan.

Jangan menggantungkan hati kepada benda.

Gantungkan hati kepada Allah.

Sebab ketika seorang hamba berobat, berdoa, berikhtiar, dan kemudian mendapatkan kesembuhan, semuanya terjadi dengan izin Allah Ta’ala.

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu.”

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keluarga kita dari segala keburukan, memberikan kesehatan, ketenangan, serta menguatkan tauhid dan tawakal kita kepada-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

lihat juga artikel ini di web: majelis.alfaradis.com