
Berikut artikel yang cocok untuk alfaradis.com, dengan pendekatan parenting yang menenangkan wali santri sekaligus menguatkan peran orang tua dan pesantren. Fenomena homesick memang umum dalam masa adaptasi santri, terutama ketika anak pertama kali hidup jauh dari rumah. (cdn.almadinah.or.id)
Ketika Anak Mulai Tidak Betah di Pesantren: Jangan Terburu-buru Menjemput
“Umi, aku nggak betah di pondok…”
Bagi seorang wali santri, kalimat sederhana ini bisa terasa sangat berat.
Apalagi jika disampaikan dengan suara menangis, rindu rumah, atau disertai permintaan, “Aku mau pulang.”
Saat itu, hati orang tua biasanya berada dalam dilema.
Di satu sisi ingin anak belajar mandiri, disiplin, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun di sisi lain, orang tua tentu tidak tega melihat anaknya mengalami kesulitan.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak mulai merasa tidak betah di pesantren?
Apakah langsung dijemput? Atau justru dibiarkan menghadapi semuanya sendiri?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Yang pertama harus dilakukan adalah memahami penyebabnya.
Tidak Betah Bukan Berarti Tidak Cocok
Anak yang mengatakan tidak betah belum tentu berarti pesantrennya tidak baik atau keputusan orang tua untuk memondokkan anak adalah sebuah kesalahan.
Bisa jadi anak sedang mengalami masa adaptasi.
Lingkungan pesantren berbeda dengan rumah.
Di rumah, anak memiliki orang tua yang selalu dekat.
Ada kamar yang sudah familiar, makanan yang sesuai selera, kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dijalani, serta suasana keluarga yang memberikan rasa aman.
Sementara di pesantren, anak harus berhadapan dengan:
- lingkungan baru,
- teman-teman baru,
- aturan baru,
- jadwal yang lebih teratur,
- tuntutan untuk mandiri,
- guru dan pengasuh yang belum sepenuhnya dikenal,
- serta kerinduan kepada keluarga.
Perubahan seperti ini memang membutuhkan proses penyesuaian. Homesickness atau rasa rindu rumah merupakan salah satu pengalaman yang umum dialami santri ketika mulai hidup jauh dari keluarga. (almadinah.or.id)
Jadi ketika anak berkata,
“Aku tidak betah.”
Jangan langsung menerjemahkannya sebagai,
“Anak saya tidak cocok di pesantren.”
Bisa jadi sebenarnya anak sedang berkata,
“Aku sedang kesulitan beradaptasi dan membutuhkan bantuan Ayah dan Ibu.”
Dengarkan Dahulu, Jangan Langsung Menghakimi
Ketika anak mengeluh, respons pertama orang tua sangat penting.
Hindari langsung mengatakan:
“Kamu itu belum apa-apa sudah mengeluh.”
“Dulu Ayah juga susah.”
“Kamu harus kuat!”
“Kalau baru begini saja sudah tidak betah, bagaimana mau sukses?”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk memotivasi.
Namun ketika hati anak sedang berat, nasihat panjang terkadang justru membuatnya merasa tidak dipahami.
Cobalah mulai dengan mendengarkan.
Tanyakan:
“Apa yang paling membuat kamu tidak betah?”
“Kamu sedang rindu rumah atau ada masalah dengan teman?”
“Ada yang membuat kamu takut?”
“Bagaimana dengan ustadz atau musyrif di sana?”
“Bagian mana dari kegiatan pondok yang paling berat?”
Dengan begitu, orang tua dapat mengetahui apakah masalahnya hanya sekadar rindu rumah atau terdapat persoalan lain yang membutuhkan perhatian lebih serius.
Cari Tahu: Rindu Rumah atau Ada Masalah?
Ini bagian yang sangat penting.
Tidak semua keluhan “tidak betah” memiliki penyebab yang sama.
1. Karena Rindu Rumah
Anak merindukan orang tua, saudara, rumah, makanan, atau suasana yang biasa ia rasakan.
Ini sering terjadi terutama pada masa awal mondok.
2. Belum Mendapatkan Teman
Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bersosialisasi.
Ia mungkin merasa sendirian karena belum menemukan teman dekat.
3. Belum Terbiasa dengan Aturan
Bangun pagi, antre, menjaga kebersihan, mengikuti jadwal, belajar, menghafal, dan berbagai aktivitas pesantren mungkin terasa berat pada awalnya.
4. Kesulitan Akademik
Anak bisa merasa tertinggal dalam pelajaran, hafalan, bahasa, atau tugas tertentu.
Akibatnya muncul rasa minder dan keinginan untuk pulang.
5. Konflik dengan Teman
Ini perlu diperhatikan secara serius.
Jika anak menceritakan adanya perundungan, intimidasi, kekerasan, atau perlakuan yang membuatnya merasa tidak aman, jangan dianggap sebagai sekadar “proses adaptasi”.
Orang tua perlu berkomunikasi dengan pihak pesantren untuk mencari solusi.
6. Masalah dengan Pengasuh atau Sistem
Anak mungkin belum memahami aturan atau merasa kesulitan berkomunikasi dengan musyrif, ustadz, atau pengurus.
Masalah seperti ini dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik antara anak, orang tua, dan pihak pesantren.
Jangan Menjadikan “Pulang” sebagai Solusi Pertama
Salah satu kesalahan yang tidak disadari orang tua adalah terlalu cepat memberikan jalan keluar.
Ketika anak berkata:
“Aku nggak betah.”
Orang tua menjawab:
“Kalau begitu nanti Umi jemput.”
Kalimat tersebut memang lahir dari kasih sayang.
Tetapi secara tidak langsung anak dapat belajar bahwa:
ketika menghadapi kesulitan → pulang adalah jalan keluar.
Padahal dalam kehidupan, anak akan menghadapi banyak situasi yang tidak nyaman.
Sekolah.
Kuliah.
Pekerjaan.
Organisasi.
Kehidupan bermasyarakat.
Semua membutuhkan kemampuan untuk menghadapi ketidaknyamanan, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi.
Karena itu, jika masalahnya masih berada dalam batas kewajaran masa adaptasi, orang tua dapat membantu anak bertahan dan belajar menghadapi proses tersebut, bukan langsung menghilangkan masalah dengan menjemput.
Tentu saja, ini bukan berarti anak harus dipaksa bertahan dalam kondisi yang membahayakan atau merugikan dirinya.
Jika terdapat masalah serius, keselamatan dan kondisi anak harus menjadi prioritas.
Orang Tua Perlu “Tega”, Tetapi Tetap Penuh Kasih Sayang
Menjadi orang tua santri memang membutuhkan hati yang kuat.
Tega bukan berarti tidak sayang.
Tega berarti mampu membedakan:
mana tangisan karena rindu dan butuh adaptasi,
dengan
mana tangisan karena ada masalah yang benar-benar harus diselesaikan.
Anak membutuhkan orang tua yang memberikan rasa aman.
Namun anak juga membutuhkan kesempatan untuk belajar mandiri.
Karena tujuan pendidikan pesantren bukan hanya agar anak mendapatkan ilmu.
Tetapi juga agar anak belajar:
bertanggung jawab, disiplin, mandiri, bersosialisasi, dan menyelesaikan masalah.
Jangan Membuat Anak Semakin Rindu
Komunikasi dengan anak memang penting.
Namun komunikasi juga perlu dilakukan dengan bijak.
Jika setiap kali menelepon orang tua mengatakan:
“Umi juga kangen banget…”
“Rumah sepi tanpa kamu…”
“Kapan kamu pulang?”
“Umi sebenarnya nggak tega kamu di pondok…”
maka tanpa disadari, orang tua bisa semakin memperkuat rasa rindu anak.
Sebaliknya, gunakan komunikasi untuk membangun semangat.
Tanyakan:
“Hari ini sudah belajar apa?”
“Sudah punya teman baru?”
“Ada kegiatan yang kamu sukai?”
“Tadi berhasil menyelesaikan tugas apa?”
“Besok mau melakukan apa?”
Arahkan pembicaraan agar anak melihat bahwa ia sedang bertumbuh, bukan sedang kehilangan rumah.
Pengaturan komunikasi yang sehat juga dapat membantu anak memiliki ruang untuk benar-benar beradaptasi dengan lingkungan barunya. (nurulhayah.com)
Jangan Bandingkan Anak dengan Santri Lain
Hindari mengatakan:
“Lihat temanmu, dia betah.”
“Kakak kelas saja bisa.”
“Masa kamu tidak bisa?”
Setiap anak memiliki karakter dan kecepatan adaptasi yang berbeda.
Ada yang dalam beberapa hari sudah merasa nyaman.
Ada yang membutuhkan beberapa minggu.
Ada pula yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Perbedaan tersebut bukan berarti anak lemah.
Yang penting adalah membantu anak bergerak maju sedikit demi sedikit.
Bangun Kerja Sama dengan Pesantren
Ketika anak mulai tidak betah, jangan hanya menyelesaikannya dari rumah.
Orang tua dan pesantren harus menjadi tim yang bekerja bersama.
Komunikasikan kondisi anak kepada:
- pengasuh,
- wali kamar,
- musyrif,
- wali kelas,
- atau pihak yang bertanggung jawab terhadap pembinaan santri.
Sampaikan informasi secara objektif.
Bukan:
“Anak saya tidak betah, berarti pondoknya bagaimana?”
Tetapi:
“Anak kami sedang mengalami kesulitan adaptasi. Mohon dibantu dipantau dan diarahkan.”
Dengan komunikasi seperti ini, pesantren dapat membantu melihat kondisi anak dari sisi yang berbeda.
Ajarkan Anak Satu Hal Penting
Ketika anak menghadapi masalah, jangan selalu memberikan solusi.
Ajarkan ia untuk berpikir:
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Misalnya:
Tidak punya teman?
→ Coba mulai menyapa satu teman.
Sulit mengikuti jadwal?
→ Belajar membuat rutinitas.
Kangen rumah?
→ Salurkan dengan doa dan kegiatan positif.
Kesulitan pelajaran?
→ Bertanya kepada ustadz atau teman.
Ada masalah dengan teman?
→ Ceritakan kepada musyrif.
Dengan cara ini, anak tidak hanya belajar menyelesaikan masalah hari ini.
Ia sedang belajar keterampilan hidup.
Ada Saatnya Bertahan, Ada Saatnya Mengevaluasi
Orang tua juga perlu bijaksana.
Tidak semua kondisi harus dipaksakan.
Jika anak hanya mengalami rindu rumah, kesulitan adaptasi, atau ketidaknyamanan yang masih wajar, berikan waktu dan pendampingan.
Namun apabila terdapat tanda-tanda masalah serius seperti kekerasan, bullying, ancaman keselamatan, gangguan makan atau tidur yang berat, perubahan perilaku yang signifikan, atau tekanan psikologis yang terus memburuk, kondisi tersebut perlu dievaluasi bersama pihak pesantren dan tenaga profesional yang sesuai.
Bertahan bukan berarti menutup mata.
Mengevaluasi bukan berarti menyerah.
Keduanya merupakan bentuk tanggung jawab orang tua.
Ingat, Anak Sedang Belajar Menjadi Dewasa
Ayah dan Bunda…
Ketika anak mulai tidak betah di pondok, mungkin yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya anak.
Orang tua juga sedang belajar.
Belajar untuk tidak terlalu cepat menyelamatkan.
Belajar untuk mendengarkan.
Belajar membedakan antara rasa kasihan dan kebutuhan anak.
Belajar memberikan kasih sayang tanpa membuat anak kehilangan kesempatan untuk mandiri.
Dan yang paling penting…
belajar percaya bahwa anak kita sedang bertumbuh.
Hari ini mungkin ia menangis karena ingin pulang.
Besok mungkin ia mulai memiliki seorang teman.
Minggu depan mungkin ia sudah hafal jadwal kegiatan.
Beberapa bulan kemudian, mungkin ia justru berkata:
“Ternyata mondok itu menyenangkan.”
Semua itu membutuhkan proses.
Untuk Ayah dan Bunda Wali Santri
Jika suatu hari anak menelepon dan berkata:
“Aku nggak betah…”
Tarik napas.
Jangan panik.
Jangan langsung mengambil keputusan.
Dengarkan.
Cari tahu penyebabnya.
Berikan ketenangan.
Berkomunikasi dengan pihak pesantren.
Kemudian bantu anak melewati satu tahap demi satu tahap.
Karena terkadang…
anak tidak membutuhkan pintu untuk pulang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
“Ayah dan Ibu tahu ini tidak mudah. Tapi kami percaya kamu bisa melewatinya. Kami selalu mendoakanmu.”
Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi kekuatan yang sangat besar bagi seorang anak.
Penutup
Pendidikan adalah perjalanan panjang.
Pesantren bukan hanya tempat anak belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan.
Pesantren juga menjadi tempat anak belajar tentang kehidupan:
bangun ketika harus bangun,
belajar ketika harus belajar,
bertanggung jawab ketika diberi amanah,
bersabar ketika menghadapi kesulitan,
dan bangkit ketika mengalami kegagalan.
Maka ketika anak mulai tidak betah, mari jangan terburu-buru melihatnya sebagai kegagalan.
Bisa jadi…
itu adalah awal dari proses tumbuhnya kemandirian.
Dan sebagai orang tua, tugas kita bukan membuat jalan anak selalu mudah.
Tetapi mendampingi mereka agar mampu melewati jalan yang tidak mudah dengan iman, ilmu, kesabaran, dan keberanian.
Pondok Pesantren Dar Al-Faradis
Amaliyah Diniyah • Prestasi Ilmiyah • Kesiapan Hidup
Mendidik santri agar tidak hanya pintar dalam ilmu, tetapi juga siap menghadapi kehidupan.







