G
N
I
D
A
O
L

2 Bekal Menuju Akhirat

Sebagian manusia menghabiskan umur untuk mengejar harta. Sebagian yang lain berjuang meraih jabatan dan kedudukan. Ada pula yang membanggakan nama besar, keturunan, dan berbagai prestasi duniawi. Namun pada akhirnya, semua itu akan berhenti pada satu titik. Harta akan ditinggalkan, jabatan akan dilepaskan, dan pujian manusia akan berakhir. Yang tersisa hanyalah amal yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia.

Karena itulah, Al-Qur’an mengarahkan perhatian kita kepada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar keuntungan dunia. Allah SWT menawarkan sebuah “perdagangan” yang tidak pernah merugi. Sebuah perdagangan yang keuntungannya tidak dihitung dengan angka, melainkan dengan keselamatan di akhirat.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ash-Shaff ayat 10–12:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍۚ ۝١٠ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝١١ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١٢

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ash-Shaff: 10-12).

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat indah. Allah menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan manusia, yaitu bahasa perdagangan. Mengapa perdagangan? Karena manusia umumnya memahami untung dan rugi.

Namun perdagangan yang ditawarkan Allah berbeda dengan perdagangan dunia. Dalam perdagangan dunia, seseorang bisa saja rugi meskipun telah bekerja keras. Ada yang bangkrut setelah bertahun-tahun berusaha. Ada yang kehilangan modal karena keadaan yang tidak terduga. Bahkan ada yang gagal ketika keuntungan sudah tampak di depan mata.

Tetapi dalam perdagangan dengan Allah, kerugian tidak pernah menimpa orang yang sungguh-sungguh beriman dan beramal saleh. Modalnya adalah iman. Keuntungannya adalah ampunan dan surga. Tidak ada investasi yang lebih menguntungkan daripada itu.

Karena itu, ayat tersebut pertama-tama menyebutkan keimanan. Sebab iman adalah fondasi segala amal. Amal sebesar apa pun tidak akan bernilai tanpa iman. Sebaliknya, iman yang benar akan mendorong seseorang untuk melahirkan amal-amal kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu Allah menyebut jihad di jalan-Nya. Namun jihad dalam ayat ini tidak boleh dipahami secara sempit. Jihad bukan hanya perjuangan di medan peperangan. Jihad adalah kesungguhan seorang hamba dalam menaati Allah dan memperjuangkan kebaikan.

Hari ini, seorang ayah yang bekerja halal demi menafkahi keluarganya sedang berjihad. Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik juga sedang berjihad. Seorang pelajar yang tekun menuntut ilmu, seorang pedagang yang menjaga kejujuran, seorang pejabat yang amanah, bahkan seseorang yang berusaha menahan amarah dan melawan hawa nafsunya, semuanya sedang berjihad di jalan Allah.

Karena itu, jihad sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.  Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafâtîhul Ghaib (juz 29, hlm. 531) menerangkan bahwa jihad memiliki tiga bentuk.

Pertama, jihad melawan diri sendiri, yaitu menundukkan hawa nafsu dan menahan diri dari berbagai syahwat yang dilarang.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Najjar dari Abu Dzarr)

Kedua, jihad dalam hubungan dengan sesama manusia, yakni meninggalkan ketamakan, menumbuhkan kasih sayang, dan memperlakukan orang lain dengan penuh kepedulian.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
«الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْجَرُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

Artinya:
“Orang mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka, itu lebih besar pahalanya daripada orang mukmin yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (HR. Ibnu Majah)

Ketiga, jihad terhadap dunia, yaitu menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Maja)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *