Belajar Tafsir Al-Qur’an Setiap Sabtu Malam: Membaca, Memahami, Mentadabburi, dan Mengamalkan

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca, tetapi merupakan petunjuk kehidupan yang Allah Ta’ala turunkan agar manusia memahami jalan yang benar dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik merupakan sebuah keutamaan. Namun, pendidikan Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca. Para santri juga perlu diajak untuk memahami maknanya, mentadabburi kandungannya, dan berusaha mengamalkannya.

Inilah salah satu ikhtiar pendidikan yang dilakukan di Pondok Pesantren Dar Al-Faradis melalui kegiatan kajian tafsir Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap Sabtu malam bakda Isya bersama Bapak Pengasuh, Ust. Anwar.

Dari Bisa Membaca Menuju Bisa Memahami

Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada para santri bahwa belajar Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan mampu membaca ayat demi ayat.

Allah Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkahan agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. Shad: 29)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya.

Maka, santri perlu dibimbing untuk bertanya:

Apa yang Allah sampaikan dalam ayat ini?

Apa pesan yang terkandung di dalamnya?

Apa yang harus saya lakukan setelah memahami ayat ini?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut diharapkan dapat mengubah cara santri berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Kajian Tafsir Bersama Pengasuh

Setiap Sabtu malam bakda Isya, para santri mengikuti kajian tafsir Al-Qur’an bersama Bapak Pengasuh, Ust. Anwar.

Dalam suasana yang santai namun tetap serius, santri diajak untuk menyimak penjelasan mengenai ayat-ayat Al-Qur’an, memahami makna dan kandungannya, serta mengambil pelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka sebagai seorang santri.

Kajian tidak hanya membahas “apa arti ayat ini?”, tetapi juga diarahkan kepada pertanyaan yang lebih penting:

“Apa yang bisa kita lakukan setelah memahami ayat ini?”

Dengan demikian, tafsir tidak berhenti menjadi pengetahuan di dalam kelas, tetapi diharapkan menjadi petunjuk yang membentuk sikap dan perilaku santri.

Al-Qur’an Harus Hadir dalam Kehidupan

Pendidikan Al-Qur’an yang ideal bukan hanya menghasilkan generasi yang mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar atau bahkan menghafalnya.

Lebih dari itu, kita berharap lahir generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, santri belajar untuk menjadi pribadi yang jujur.

Ketika Al-Qur’an mengajarkan berbakti kepada orang tua, santri belajar menjadi anak yang berbakti.

Ketika Al-Qur’an mengajarkan kesabaran, santri belajar menghadapi kesulitan dengan sabar.

Ketika Al-Qur’an mengajarkan menjaga lisan, santri belajar menghindari perkataan yang menyakiti orang lain.

Ketika Al-Qur’an mengajarkan tentang takwa, santri belajar menghadirkan rasa takut dan cinta kepada Allah dalam setiap aktivitasnya.

Inilah yang menjadi harapan dari pembelajaran tafsir.

Al-Qur’an tidak hanya berada di lisan, tetapi juga masuk ke dalam hati dan kemudian terlihat dalam akhlak serta amal perbuatan.

Membentuk Santri yang Qur’ani

Kegiatan kajian tafsir ini menjadi bagian dari upaya Pondok Pesantren Dar Al-Faradis dalam membentuk santri yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an.

Santri diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan tilawah, tetapi juga memiliki kemampuan tafahhum (memahami), tadabbur (merenungkan), dan tathbiq (mengamalkan).

Dengan proses tersebut, pembelajaran Al-Qur’an diharapkan dapat membentuk karakter santri secara lebih menyeluruh.

Sebab, ukuran keberhasilan belajar Al-Qur’an bukan hanya seberapa banyak ayat yang mampu dibaca atau dihafal, tetapi juga seberapa jauh Al-Qur’an memengaruhi hati, akhlak, dan kehidupan seseorang.

Malam yang Dihidupkan dengan Al-Qur’an

Sabtu malam menjadi waktu yang istimewa bagi para santri untuk kembali mendekat kepada Al-Qur’an.

Di tengah rutinitas kegiatan pesantren, kajian tafsir menjadi ruang untuk berhenti sejenak, membuka lembaran Al-Qur’an, mendengarkan penjelasan, merenungkan pesan-pesannya, kemudian berusaha membawanya dalam kehidupan sehari-hari.

Harapannya, dari majelis-majelis kecil semacam ini akan lahir generasi yang cinta Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Karena pada akhirnya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menjadi petunjuk dalam menjalani kehidupan.

Membaca Al-Qur’an adalah awal.

Memahami Al-Qur’an adalah langkah berikutnya.

Mentadabburi Al-Qur’an adalah jalan untuk menyentuh hati.

Dan mengamalkan Al-Qur’an adalah tujuan yang kita harapkan.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan para santri Dar Al-Faradis sebagai generasi yang dekat dengan Al-Qur’an, mencintainya, memahami kandungannya, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.